JAKARTA – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan pengerahan pasukan TNI ke wilayah Jakarta. Agus mengatakan, pengerahan tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan TNI dalam rangka mempertahankan kedaulatan negara dari berbagai ancaman.
“Di dalam internal TNI kita menggunakan istilah siaga. Siaga ini digunakan untuk dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman,” kata Agus, dikutip Jumat (6/11/2026).
Agus menerangkan, terdapat dua jenis ancaman yang menjadi perhatian TNI, yakni ancaman alam dan ancaman buatan manusia. Ancaman alam berkaitan dengan bencana, sedangkan ancaman buatan manusia meliputi berbagai gangguan keamanan.
Menurut Agus, Siaga 3 diberlakukan ketika situasi dalam keadaan aman. Dalam kondisi tersebut, personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tetap berada di satuan masing-masing untuk melaksanakan kegiatan rutin dan latihan. Namun, prajurit tidak diperbolehkan keluar dari satuan.
Sementara itu, Siaga 2 diberlakukan ketika situasi dalam keadaan waspada. Pada tingkatan ini, setengah hingga tiga per empat kekuatan personel dan alutsista telah ditempatkan di pos masing-masing. Prajurit juga tidak diperbolehkan keluar dari ksatrian.
Adapun Siaga 1 diterapkan ketika eskalasi situasi meningkat. Dalam kondisi tersebut, personel dan alutsista telah disiagakan dan ditempatkan di pos masing-masing.
“Itu yang biasanya dilakukan oleh internal TNI. Siaga itu tidak ada waktunya. Jadi lihat situasi sudah kondusif, baru dari Siaga 1, kita kendorkan Siaga 2 dan Siaga 3,” terang Agus.
Agus menambahkan, penerapan status siaga untuk menghadapi bencana alam memiliki ketentuan berbeda. Dia menyebut TNI terus memberlakukan Siaga 1 untuk mengantisipasi potensi bencana selama musim penghujan.
“Kalau untuk siaga bencana, itu saya berlakukan Siaga 1 terus karena ini sudah mulai musim penghujan. Pasti di beberapa wilayah ada yang banjir, kita personel dengan alutsista sudah siap digerakkan,” tandasnya.






